KPM UT Gelar Workshop Penyusunan Evidence THE Sustainability Impact Ratings 2027, Hadirkan Manajer Sustainability Center Universitas Pertamina

Kantor Penjaminan Mutu Universitas Terbuka – Tangerang Selatan, Kamis, 22 Oktober 2026

Tangerang Selatan, 22 Oktober 2026 — Kantor Penjaminan Mutu (KPM) Universitas Terbuka (UT) menyelenggarakan Workshop Penyusunan Evidence THE Sustainability Impact Ratings 2027 di Ruang Mahoni, Wisma 3 Universitas Terbuka, mulai pukul 09.30 WIB. Kegiatan yang dihadiri 39 peserta dari berbagai unit kerja ini merupakan bagian dari persiapan dan pelaksanaan pemeringkatan Times Higher Education (THE) Sustainability Impact Ratings 2027, sekaligus upaya memperkuat tata kelola data dan rekognisi internasional UT di bidang pembangunan berkelanjutan.

Workshop dibuka oleh Ibu Dr. Rini Dwiyani Hadiwidjaja, S.E., M.Si.  selaku Manajer Penjaminan Mutu dan Reputasi Internasional pada Kantor Penjaminan Mutu UT dan menghadirkan narasumber Bapak Gede Widia Pratama Adhyaksa, Manajer Sustainability Center Universitas Pertamina, yang memaparkan materi berjudul “Sustainability di Universitas Pertamina, Pengelolaan Data SDGs, dan Pemeringkatan Global”. Sesi berlangsung pukul 10.00–12.00 WIB dan diarahkan pada tiga hal: pengumpulan serta pengelompokan data dan/atau evidence SDGs, strategi submisi data ke portal THE Impact Ratings, dan komitmen keberlanjutan Universitas Pertamina.

Pemeringkatan yang menjadi sasaran kegiatan ini mencakup empat pilar utama, yaitu Research, Stewardship, Teaching, dan Outreach, dengan 75 matriks dan 255 indikator yang terdiri atas indikator kualitatif dan kuantitatif. Karena itu, keberhasilan submisi tidak ditentukan oleh banyaknya dokumen yang dikirim, melainkan oleh ketepatan evidence dalam menjawab setiap indikator.

Sustainability sebagai DNA Universitas Pertamina

Narasumber menjelaskan bahwa keberlanjutan bukan program tambahan di Universitas Pertamina, melainkan embrio tridarma sejak kampus tersebut berdiri pada 2016. Pada jalur pendidikan, seluruh mahasiswa wajib menempuh mata kuliah Pembangunan Berkelanjutan (kode 10302). Pada jalur penelitian, sekitar 20 persen publikasi UPer terbit di jurnal bereputasi Scopus dan diarahkan pada tujuh fokus utama: energi, infrastruktur, lingkungan dan perubahan iklim, manufaktur, pangan dan kesehatan, teknologi informasi, serta penghidupan sosial yang berkelanjutan. Pada jalur pengabdian masyarakat, dikembangkan program Desa Energi Berdikari. Kurikulum juga terus diperbarui: tema kurikulum 2016 dan K21 bertumpu pada energi, sedangkan tema kurikulum K26 diarahkan pada sustainability, sejalan dengan penyiapan Graduate School of Sustainability Science.

Gambar 1. Pemaparan materi oleh Gede Widia Pratama Adhyaksa, Manajer Sustainability Center Universitas Pertamina, dalam Workshop Penyusunan Evidence THE Sustainability Impact Ratings 2027

Kelembagaan Sustainability Center dibentuk melalui SPRIN Direktur Utama Pertamina No. 12/C00000/2023-S0 tanggal 26 Mei 2023, ditindaklanjuti SK Rektor UPer No. 0001A/UPER-R/SK/HK.01/I/2024 tanggal 4 Januari 2024 dan MoA antara BAPPENAS dan UPer No. PKS 01/S.A 02/06/2024 tanggal 10 Juni 2024. Rangkaian tersebut berpuncak pada peluncuran Sustainability Center pada 11 Agustus 2025 sebagai pusat riset dan kolaborasi yang mendukung target Net Zero Emission 2060.

Tiga Pilar Kerja Sustainability Center

Sejak 2024, Sustainability Center menjalankan tiga pilar kerja. Pertama, Education Center, yang mendukung pendidikan, pengembangan karier profesional, serta penguatan kapasitas di bidang teknologi dan bisnis energi. Kedua, Think-tank hub, yang mempercepat kolaborasi lintas 11 Center of Excellences (CoEs) di UPer untuk advokasi kebijakan, riset, dan inovasi, antara lain melalui Center for Sustainable Geoscience and Outreach (CSGO), Center for Data Science Automation (CDSCAN), Center for Business and Economics Energy Studies (C-BEPES), Center for Reliability and Structural Integrity (RESTRIN), dan Center for Environmental Solution (CVISION). Ketiga, Business Unit, yang bersama Direktorat Kerjasama Industri (DKI) menghasilkan valuasi lebih dari Rp32 miliar per tahun (setara USD 2 juta per tahun).

Dalam konteks ini narasumber menegaskan pentingnya membedakan lembaga think tank dari unit pengembangan penjualan (sell development unit). Keduanya memiliki fungsi dan ukuran keberhasilan yang berbeda, sehingga indikator yang dilaporkan pun harus disesuaikan dengan peran masing-masing unit agar tidak menimbulkan tumpang tindih klaim dalam dokumen pemeringkatan.

Pilar kerja tersebut dijalankan melalui agenda yang lebih luas, mencakup Building Low Carbon Business, peningkatan ESG rating pada Pertamina Hulu Energi (PHE), serta kegiatan education outreach melalui Lestari Academy, platform pembelajaran digital binaan Universitas Pertamina, yang bekerja sama dengan Kompas. Kolaborasi ini memperlihatkan bagaimana kegiatan pelatihan dan pengabdian dapat diposisikan sebagai bukti dampak sosial, bukan sekadar dokumentasi kegiatan.

Belajar dari Benchmark dan Mitra Global

Sustainability Center mempelajari sejumlah inisiatif keberlanjutan yang berafiliasi dengan universitas kelas dunia, antara lain BP Institute di University of Cambridge, Shell UTC di Imperial College London, ExxonMobil Energy Center di Princeton University, dan pusat riset berbasis dana Equinor di University of Bergen. Dari kajian tersebut diperoleh tiga key takeaways: (1) diverse funding sources — sumber pendanaan yang beragam, mulai dari investasi langsung Pertamina, potensi hibah riset pemerintah, hingga kemitraan publik-swasta; (2) strategic collaborations — kemitraan dengan pemimpin industri yang membuka akses sumber daya; dan (3) alignment with priorities — keselarasan agenda riset dengan prioritas energi nasional dan global. Kerangka ini relevan bagi penyusunan evidence karena penilai internasional mencari bukti keberlanjutan yang bersifat struktural, bukan kegiatan seremonial.

Narasumber juga menyoroti posisi mitra di negara berpendapatan rendah (lower income countries) sebagai bagian dari keys partners in sustainability. Keterlibatan mitra tersebut perlu tercatat sebagai bukti kerja sama internasional yang setara, termasuk bentuk dukungan yang diberikan, agar dapat dikaitkan dengan indikator kemitraan global (SDG 17).

Pengelompokan Data Berbasis Machine Learning dan Strategi Submisi

Menjawab kebutuhan utama workshop, narasumber memperkenalkan SMART SDG Mapping and Assessment Tool, perangkat pemetaan dan asesmen berbasis data yang memanfaatkan machine learning untuk mengelompokkan data dan evidence ke indikator SDG yang relevan. Perangkat ini memungkinkan unit kerja memetakan kegiatan secara otomatis, menghindari duplikasi dokumen, dan mempersiapkan bahan pelaporan tanpa memulai dari nol pada setiap siklus pemeringkatan.

Materi dilanjutkan dengan THE Evidence Collection and Submission Strategy, yaitu alur pengumpulan bukti hingga submisi ke portal THE Impact Ratings, serta pengelolaan dan publikasi website SDGs sebagai pusat informasi program, riset, dan kegiatan keberlanjutan. Melalui kanal ini setiap kegiatan dipublikasikan sebagai laporan lengkap yang ditautkan ke indikator SDG terkait, sementara unggahan media sosial berfungsi sebagai pintu masuk yang mengarahkan audiens ke artikel utuh di situs resmi. Prinsip yang ditekankan adalah evidence based: setiap klaim dalam narasi harus dapat ditelusuri ke dokumen, data, atau tautan yang dapat diakses penilai.

Gambar 2. Narasumber menjelaskan strategi pengumpulan dan penyampaian evidence ke portal THE Impact Ratings

Praktik Baik Penyusunan Evidence

Berdasarkan pengalaman Universitas Pertamina, narasumber memaparkan sejumlah faktor yang membuat nilai indikator belum maksimal, sekaligus solusinya:

1. Tautan media sosial sebagai bukti. Informasi yang dipublikasikan melalui Instagram sebaiknya disusun ulang menjadi berita atau narasi di situs web resmi institusi. Halaman baru tetap dapat dibuat, dengan mencantumkan tanggal pelaksanaan kegiatan yang sebenarnya.

2. Dokumen hasil pindaian (scan). Berkas pindaian berpotensi tidak terbaca oleh sistem penilaian berbasis AI. Gunakan dokumen digital asli atau teks yang dapat dibaca mesin.

3. Kesalahan memahami indikator. Evidence yang tidak tepat sasaran dinilai terlalu umum (generic) atau tidak relevan (not relevant). Pertanyaan indikator perlu dibaca ulang sebelum narasi disusun.

4. Kata kunci tidak tercantum. Narasi perlu memuat kata kunci yang sesuai dengan indikator agar penilai dapat menemukan keterkaitan antara bukti dan kriteria.

5. Kebijakan tanpa dokumen pendukung. Narasi yang menyebut kebijakan kampus wajib dilengkapi dokumen kebijakan, nomor kebijakan, serta alamat atau tautan kebijakan.

6. Bahasa. Evidence disarankan disajikan dalam bahasa Inggris agar sesuai dengan instrumen penilaian.

7. Ketentuan layanan gratis atau bersubsidi. Beberapa indikator mensyaratkan bukti kegiatan yang diberikan secara free atau subsidized. Keterangan tersebut harus dinyatakan eksplisit dalam evidence.

8. Jawaban “No”. Pertanyaan yang dijawab dengan pilihan “No” otomatis memperoleh nilai 0. Indikator yang belum dapat dipenuhi tetap perlu diisi narasi atau penjelasan mengenai kondisi yang ada dan tidak dibiarkan kosong.

Pada sesi diskusi, peserta menanyakan sejumlah hal teknis. Untuk validasi data penggunaan air (SDG 6), evidence dapat disajikan dalam bentuk data numerik maupun narasi yang dilengkapi dokumentasi pendukung. Untuk data mahasiswa generasi pertama (first-generation students), data dapat diperoleh melalui survei kepada mahasiswa sebelum kegiatan pembelajaran dimulai. Untuk data numerik SDG 3, jumlah peserta lokakarya atau kegiatan penyuluhan kesehatan yang diselenggarakan klinik universitas dapat dijadikan dasar pelaporan. Sementara itu, satu dokumen atau sumber evidence dapat mendukung beberapa indikator SDGs, dengan catatan narasi setiap indikator disusun spesifik sesuai aspek yang dinilai, termasuk aspek tata kelola (stewardship) dan keberlanjutan (sustainability).

Gambar 3. Peserta Workshop Penyusunan Evidence THE Sustainability Impact Ratings 2027 mengikuti sesi pemaparan dan diskusi

Komitmen Keberlanjutan dan Tindak Lanjut

Sebagai penutup, narasumber menegaskan komitmen keberlanjutan Universitas Pertamina melalui program UPGRADES dengan tiga inisiatif unggulan, yaitu Scope 3 Emissions, Biodiversity, dan Energy Audit, serta penerapan praktik keberlanjutan di kampus melalui efisiensi energi dan pengelolaan lingkungan. Universitas Pertamina juga mengelola website SDGs secara berkelanjutan dan mengikuti pemeringkatan lain di luar THE Impact Ratings sebagai bagian dari strategi rekognisi yang tidak bergantung pada satu instrumen penilaian.

Bagi Universitas Terbuka, workshop ini menjadi titik awal penataan tata kelola data SDGs: penetapan pemilik data per indikator, penyusunan kalender pengumpulan evidence, standardisasi format narasi berbahasa Inggris, serta pemusatan penyimpanan dokumen pada kanal yang dapat diakses publik. Dengan langkah tersebut, proses penyusunan evidence diharapkan berlangsung sistematis, terdokumentasi, dan berkelanjutan pada setiap siklus pemeringkatan.

“Education saves lives and transforms lives; it is the bedrock of sustainability,” kutipan Irina Bokova, mantan Direktur Jenderal UNESCO, yang ditampilkan pada penutup materi, menjadi penegasan bahwa pendidikan merupakan fondasi utama agenda keberlanjutan.

(Ditulis oleh: Nisa Permata Basti – Kantor Penjaminan Mutu Universitas Terbuka)